Dialah Musa bin Nushair yang lahir tahun 19 Hijriyah seorang panglima
yang disegani, ahli siasat dan lelaki yang bertekad bulat. Beliaulah
yang memimpin armada laut kaum muslimin di zaman Mu’awiyah tahun 27
hijriyah untuk menaklukkan Cyprus, dan setelah berhasil menguasainya,
beliau membangun berbagai benteng pertahanan di dalamnya.
Al Baghawi menceritakan bahwa Musa menjabat sebagai wali (gubernur)
wilayah Afrika pada tahun 79 H, dan berhasil menaklukkan kota-kota dan
daerah yang sangat banyak di sana. Beliau juga lah yang berhasil
menaklukkan negeri Andalusia, sebuah negeri di wilayah Spanyol yang
memiliki banyak kota, desa dan perkebunan. Seiring dengan masuknya
Andalusia ke pangkuan Islam, beliau menawan sejumlah besar musuh, dan
mendapat ghanimah yang tak terhitung banyaknya, dari emas dan permata
yang tak ternilai.
Adapun alat-alat, perkakas dan hewan ternak, sungguh di luar logika…
demikian pula dengan anak-anak dan wanita cantik yang jatuh sebagai
tawanan, demikian banyak jumlahnya. Belum pernah sejarah mencatat kaum
muslimin mendapat tawanan yang demikian banyaknya.
Selain penakluk, Musa juga seorang da’i ulung. Berkat jasanyalah
penduduk Maghrib (Afrika Utara) masuk Islam. Beliau juga mengajari
mereka tentang Al Qur’an. Konon tiap kali pasukannya bergerak, mereka
membawa ghanimah di atas punggung sapi, saking banyaknya dan tidak mampu
lagi diangkat oleh kendaraan.
Selama penaklukannya, Musa tergolong panglima yang bernasib baik.
Konon dikisahkan bahwa tatkala menaklukkan Andalusia, ada seseorang yang
berkata kepadanya: “Utuslah sejumlah pasukan bersamaku, niscaya akan
kutunjukkan kepadamu harta karun yang agung”. Maka Musa mengutus
sejumlah pasukan bersama orang tersebut ke suatu tempat. Sesampainya di
sana, orang itu memerintahkan mereka agar menggali, maka mereka pun
menggali hingga menemukan sebuah ruangan besar yang berisi permata,
yakut, zabarjud yang membuat mereka terbelalak. Adapun emas maka tak
bisa lagi diceritakan banyaknya…
Ibnu Asakir meriwayatkan bahwa ketika Musa berkunjung ke Damaskus,
Umar bin Abdul Aziz bertanya kepadanya tentang kejadian paling ajaib
yang pernah dialaminya selama berperang di lautan. Maka Musa mengisahkan
sebagai berikut:
“Suatu ketika, kami sampai di sebuah pulau… di sana kami mendapati
ada 16 buah kendi yang disegel dan dicap oleh Sulaiman bin Dawud
‘alaihis salam. Maka kuperintahkan agar mengambil empat dari padanya dan
melubangi salah satunya. Maka muncullah sosok syaithan yang
menepuk-nepuk kepalanya seraya berkata: “Demi Dzat yang mengutusmu
dengan kebenaran, aku takkan berbuat kerusakan lagi di muka bumi”…
kemudian syaithan tadi melihat-lihat dan berkata: “Mengapa aku tidak
mendapati kemegahan Sulaiman dan kerajaannya?” lalu sesaat kemudian
menghilang. Maka kuperintahkan agar ketiga kendi sisanya dikembalikan ke
tempat semula” lanjut Musa.
Selain seorang panglima hebat, Musa bin Nushair juga seorang yang
shalih dan penuh tawakkal kepada Allah. Ketika Afrika mengalami
paceklik, beliau memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan shalat
istisqa’, yaitu pada tahun 93 h. Usai shalat, beliau keluar menemui
orang-orang dan memisahkan antara yang muslim dan yang kafir dzimmi,
demikian pula antara induk binatang dengan anaknya, lalu memerintahkan
agar orang-orang meratap dan menangis keras, sembari ia terus berdoa
kepada Allah hingga menjelang siang, baru kemudian turun dari mimbar…
maka seseorang pun berkata: “Tidakkah engkau berdoa untuk Amirul
Mukminin?”, maka jawab Musa: “Di tempat seperti ini, yang layak disebut
hanyalah Allah Subhanahu wa ta’ala” maka Allah pun menurunkan hujan usai
Musa mengucapkan kata-kata tersebut.
Di akhir pemerintahan Al Walid bin Abdil Malik, Musa berkunjung ke
Damaskus, ibukota Daulah Bani Umayyah. Ia masuk ke sana pada hari Jum’at
tatkala Walid sedang berkhutbah di atas mimbar. Saat itu Musa
mengenakan pakaian yang indah dan tampil dengan sosok yang indah pula.
Tatkala ia masuk mesjid, masuk pula bersamanya tiga puluh anak, putera
para Raja yang berhasil di tawannya (penulisan yang benar menurut
Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan adalah: ditawannya,
suku kata “di” ditulis tidak terpisah, karena ditawannya adalah kata
kerja), beserta sejumlah orang Spanyol. Musa memakaikan mahkota di atas
kepala mereka, yang diiringi dengan sejumlah dayang, khadam dan
persiapan yang megah. Ketika Walid menyaksikan hal tersebut di
tengah-tengah khutbahnya, ia pun diam tercengang… yaitu saat melihat
pakaian sutera dan perhiasan permata yang dikenakan para putera Raja
tersebut. Lalu datanglah Musa bin Nushair seraya mengucap salam kepada
Walid, sedang ia tetap diatas (penulisan yang benar menurut Pedoman
Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan adalah: di atas, kata “di”
ditulis terpisah, karena di atas adalah bukan kata kerja) mimbarnya.
Lalu Musa memerintahkan mereka agar berdiri di kanan-kiri mimbar. Maka
Walid pun menghaturkan puji syukur kepada Allah atas karunia dan
pertolongan-Nya hingga memberinya kekuasaannya yang sedemikian luas… ia
berdoa dengan panjang diselangi puji syukur hingga waktu jum’at pun
berlalu. Maka ia turun dari mimbar dan shalat bersama kaum muslimin.
Usai shalat, ia memanggil Musa bin Nushair dan memberinya penghargaan
besar dan harta yang melimpah, demikian pula Musa… ia datang dengan
membawa harta yang melimpah pula, yang diantaranya (penulisan yang benar
menurut Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan adalah: di
antaranya, kata “di” ditulis terpisah, karena di antaranya adalah bukan
kata kerja) ialah meja makan Nabi Sulaiman bin Dawud u. Konon di atas
meja itulah Nabi Sulaiman makan… ia terbuat dari campuran emas dan perak
yang bertatahkan tiga lapis mutiara dan permata… sesuatu yang tak
pernah dilihat sebelumnya. Musa mendapatkan meja tersebut di kota
Toledo, sebuah kota tua di Andalusia Spanyol.
Konon dikisahkan bahwa Musa pernah mengutus anaknya yang bernama
Marwan dengan sejumlah pasukan hingga mereka berhasil menawan seratus
ribu orang, lalu mengutus keponakannya dengan sejumlah pasukan lain dan
berhasil menawan seratus ribu orang lagi dari suku Bar Bar. Maka ketika
ia menulis surat laporannya kepada Khalifah Walid dan menyebutkan di
sana bahwa seperlima dari ghanimahnya ialah 40 ribu orang tawanan,
orang-orang berkomentar: “Bodoh sekali dia, bagaimana mungkin
seperlimanya adalah 40 ribu orang?” lalu omongan itupun sampai kepada
Musa, maka ia mengirimkan 40 ribu orang tawanan yang merupakan seperlima
dari seluruh tawanannya… sungguh, belum pernah terdengar dalam sejarah
Islam jumlah tawanan sebesar yang didapat Musa bin Nushair.
Selama penaklukan Andalusia, Musa banyak menyaksikan keajaiban. Ia
mengatakan: “Andai saja orang-orang menurut kepadaku, niscaya akan
kupimpin mereka untuk menaklukan kota Rumiya -yaitu kota terbesar di
Eropa- hingga Allah menaklukkannya lewat tanganku insya Allah.
Dalam kunjungan lainnya kepada Khalifah Walid, Musa membawa
bersamanya tiga puluh ribu orang tawanan, selain yang kita sebutkan
tadi. Dan itu adalah ghanimah dari peperangan terakhirnya di wilayah
Maghrib. Saat itu ia datang membawa harta, pusaka, mutiara dan permata
yang tak terhingga dan tak terlukiskan.
Semenjak itu, Musa tetap tinggal di Damaskus hingga Walid wafat dan
digantikan oleh Sulaiman bin Abdul Malik. Akan tetapi Sulaiman justeru
mengkritik Musa dan memenjarakannya di Istana, sembari menuntut sejumlah
besar harta darinya.
Musa tetap berada dalam tahanan Sulaiman hingga Sulaiman berangkat
haji dengan orang-orang di tahun 98 H dan membawa Musa bersamanya. Maka
Musa akhirnya wafat di Madinah, atau di Wadil Qura dalam usia mendekati
80 tahun. Ada pula yang mengatakan bahwa ia wafat di tahun berikutnya,
wallaahu a’lam… semoga Allah merahmati dan memaafkannya dengan kasih
sayang-Nya, Aamien.
Demikianlah ikhwati fillah, sekelumit tentang biografi Musa bin
Nushair, Sang Penakluk Agung… semoga Allah memunculkan kembali
orang-orang sepertinya dari generasi kita, dan mengembalikan kejayaan
kaum muslimin di tangan mereka, Allahumma Aamien…
Diringkas dari: Al Bidayah wan Nihayah 9/194-197, oleh Al Hafizh Ibnu Katsir